Jumat, 29 April 2016

Dia, adalah Figur Suami Dambaan Hati

➖🍃➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🌷💡🏠 SUNNAH DALAM RUMAH BAGI PARA SUAMI, MEMBANTU TUGAS ISTRI

✒📂 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

🌷 Termasuk tawadhu'nya Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah beliau di dalam rumah membantu keluarga beliau. Beliau memerah susu kambing, menjahit sandal, membantu mereka di rumah mereka. Karena Aisyah pernah ditanya, apa yang diperbuat Nabi shallallahu alaihi wasallam di rumah beliau? Aisyah berkata : ''Beliau sering membantu keluarga beliau shallallahu alaihi wasallam.''

🌱 Maka misalnya seorang insan jika ia berada di rumahnya, maka termasuk sunnah adalah hendaknya ia membuat teh sendiri untuk dirinya, memasak jika memang ia bisa memasak, mencuci apa yang perlu dicuci, ini semua termasuk sunnah. Engkau.. jika engkau melakukan itu semua, engkau akan dapat pahala, pahala sunnah karena mencontoh Rasul shallallahu alaihi wasallam, dalam rangka tawadhu' karena Allah.

☀️ Dan karena hal ini akan menumbuhkan kecintaan antara dirimu dengan istrimu, jika istrimu merasa kalau engkau selalu membantu mereka dalam tugas mereka, mereka akan mencintaimu. Dan martabatmu akan bertambah tinggi disisi mereka. Sehingga dalam perkara ini ada kemaslahatan yang besar.

📂 Sumber: Syarh Riyadhu ash-Shalihin juz 2 h 264.

🌎 Kunjungi Selengkapnya || http://forumsalafy.net/sunnah-dalam-rumah-bagi-para-suami-membantu-tugas-istri/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Chqnnel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Ummu Shalih yang Shalihah

🏡🛤🏖 RUMAH TANGGA BAHAGIA ANTARA SUAMI YANG SHALIH DAN ISTRI YANG SHALIHAH

⛵al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang isterinya, Ummu Shalih :
"Ummu Shalih hidup bersamaku selama dua puluh (20) tahun. Aku dan dia tidak pernah berselisih dalam satu kata pun."

📗 Thabaqat al-Hanabilah, 2/583

sumber : Tweet @alrfaee1433: https://twitter.com/alrfaee1433/status/725100871378440192?s=09

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

📬 Diposting ulang oleh
🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀

Selasa, 22 Maret 2016

Menggoreng kacang

Menggoreng kacang cukup sampai terlihat kuning keemasan saja.
Tapi juga ditandai dengan suara minyak goreng yg tidak berisik lagi.
Angkat.
Biarkan proses pematangan tetap berjalan sampai kacang dingin.

Dengan demikian kacang terhindar dari gosong tapi tetap matang renyah

Sumber
(Fatmah Bahalwan)

Sabtu, 05 Maret 2016

Tanaman itu, tak sama waktu panennya maka bersabarlah

بسم الله الرحمن الرحيم

Ketika ana menuliskan ini. Saya sedang bergemuruh diantara desingan Mobil dan motor jalan raya. Pulang dari sebuah Rumah.

Yang dari Rumah itu ana mendapat sebuah Pelajaran berharga. Sekian mutiara nasehat -entah sudah berapa untaian- dan yang Kali ini ingin ana bagi dengan Antunna, adalah sebuah nasehat indah tentang tarbiyah.

"Tanaman buah itu berbeda-beda..
Ada yang cepat berubah karena memang masa panennya cepat..
Disiram, dipupuk dalam beberapa bulan saja, bulan kesekian sudah bisa dipanen.
Contohnya buah tomat.

Beda lagi dengan kelengkeDimana butuh bertahun-tahun untuk dirawat barulah kita bisa panen hasil buahnya yang manis"

Benar tidak Ukhty fillah?
Benar sekali.

Beda buah beda Cara perawatnya
Beda juga.. Masa panennya.
SATU kesamaannya,
Kita sedang sama sama menunggu hasil panen yang memuaskan.

Insyaa Allah.

Demikian pula dalam proses tarbiyah.
Sebuah pendidikan yang terus meneruskan sejak tangisnya kita dengar.
Sampai Allah menentukan kapan kita menghembuskan nafas terakhir.
Disitulah akhir kita mentarbiyah mereka.
Maka selama nafas kira berhembus, tarbiyah harus selalu ada.
Kita -orang tua-
Dan putra-putri kita.

Sama, dengan proses menanam buah tadi,
Mentarbiyah anak-anak
Ibaratnya kita sedang menanam buah.
Dari buah itu ada yang mudah perawatannya dan segera berubah.
Ada juga buah yang lama proses perawatannya dan lama pula panennya.
Demikian Anak-Anak.
Dari mereka ada yang dengan bahasa tubuh saja mereka sudah mengerti mau kita.
"Jangan Nak, itu tidak baik.."
Ada yang hanya dengan kata-kata, mereka segera menuruti nasehat kita.
Ada yang sebaliknya.
Sudah dinasehati berkali-kali, ini, itu, tapi tidak ada pengaruh bahkan mungkin malah menjadi.
Wallahu musta'an. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.
Lalu bagaimana?

JANGAN PUTUS ASA.
Terus berdo'a memohon kebaikan untuk kita dan anak keturunan kita.
Disertai ikhtiar yang terus menerus.

SABAR.
Jangan sampai keluar kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut kita kepada buah hati kita.

DO'AKANLAH.
Justru sepantasnya kita senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka.
Buah hati kita.
Permata-permata hati kita.
Harapan kita saat semua amalan terputus.
"Anak Shalih shalihah".

Sungguh benar,
Tiap buah beda masa panennya.
Maka bersabarlah.
Kita berharap kepada Allah.
Agar kelak panen kita menghasilkan buah buah yang baik.
Maka Sekarang adalah masa menanam.
Mari kita pupuk dan siram dengan yang baik-baik.

Siap ibu-ibu?
Insyaa Allah...
Ya Allah, tolonglah kami agar dapat mentarbiyah buah hati kami dengan sebaik-baik tarbiyah.
Tarbiyah islamiyah berlandaskan Al Qur'an & as Sunnah di atas pemahaman Salaful Ummah.

Semoga Allah menjaga seseorang di sana, yang dari nya ana menimba Ilmu.. Dimana mutiara Demi mutiara Ilmu
Ana ambil darinya.
Sesungguhnya ana mencintai dia karena Allah.

Selasa, 01 Maret 2016

Rumput tetangga tak perlu membuat risau

بسم الله الرحمن الرحيم

Kemarin, saya melihat dari kejauhan, teman saya digandeng suaminya bersama dua anaknya, menyebrang bersama sebelum akhirnya keluarga kecil itu -semoga Allah merahmati mereka- masuk kedalam sebuah mobil.

Ah, romantis!

Lalu hati pun ingin seperti itu. Selalu ditemani suami dalam setiap langkah, bahkan hanya sekedar berdua berjalan menuju tempat parkir.

Ah, HIPERBOLA.

Tak perlu bermajas tepatnya. Segera singkirkan saja perasaan-perasaan "Kok suamiku tidak begitu.." atau kalimat semakna.

Jangan.

Kita memohon kepada Allah agar Dia senantiasa membimbing kita, untuk menunduk.
Agar kedua mata ini selalu melihat kebaikan-kebaikan suami kita.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّث
ْ“Dan terhadapnikmat Tuhanmumaka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”
.(Qs. Adh Dhuha: 11)

Maka yang terucap bukan "Kok suamiku tidak begitu.. begini"
Tapi: "Alhamdulillah suamiku sudah begini begitu kepadaku"
Sembari mengingat dan menyebut kebaikan-kebaikan suami kita.

Meski memang pasangan kita itu bukan malaikat.
Maka wajar bila tak sempurna.

Dan bila datang di hadapan kita pemandangan hijau merona dari rumput tetangga.
Maka do'akanlah kebaikan untuk mereka:
بارك الله لكم...

Dan untuk kita, tak perlu iri.
Dan tak perlu pula membanding bandingkan baik di dalam hati maupun jelas dilisan.

Ya Rabb,jadikan kami sebagai penyejuk pandangan mata dan hati suami kami...
Jadikan kami para istri yang pandai mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan suami kami...
Bukan sebaliknya
Kami berlindung dari kejahatan dan kejelekan hawa nafsu kami....

آمين يا مجيب السائلين

Penutup:
#jika kau lihat rumput tetangga yang menghijau.
Tak perlu risau
Buang segera iri atau dengki
Toh, barangkali itu hijau fatamorgana
Cuma 1 yang pasti
"Bersyukur menambah nikmat"
Adapun hijaunya rumput tetanggamu, belum pasti
Bisa jadi fatamorgana

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌرَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benarMaha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs. An Nahl: 18)

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.”
(Qs. Al Baqarah: 152)

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّه
ِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”
(Qs. An Nahl: 53)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد

ٌ“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

كتبت في:

☀ يوم الخميس ، ٢٣ جمادى الأولى  ١٤٣٧ ه‍

⛅ ⓚⓐⓜⓘⓢ, 3 Maret 2016 M

🍇 بارك الله لي و لكن

〰〰🍃〰🍃〰🍃〰🍃〰🍃〰〰

Minggu, 21 Februari 2016

Rumput tetangga, tak perlu membuat risau

بسم الله الرحمن الرحيم

Kemarin, saya melihat dari kejauhan, teman saya digandeng suaminya bersama dua anaknya, menyebrang bersama sebelum akhirnya keluarga kecil itu -semoga Allah merahmati mereka- masuk kedalam sebuah mobil.

Ah, romantis!

Lalu hati pun ingin seperti itu. Selalu ditemani suami dalam setiap langkah, bahkan hanya sekedar berdua berjalan menuju tempat parkir.

Minggu, 07 Februari 2016

Bukan sebuah cerpen : Belajar ikhlas sampai maut menjemput

بسم الله الرحمن الرحيم

Sungguh, ikhlas itu dibutuhkan disetiap perkara.

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَة

"Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." – (QS.98:5)

Inilah ayat. Yang seharusnya terus aku baca. Aku fahami tafsirnya. Dan terus menjadi motivasi hidup. Bertahan.

Dan ikhlas itu bukan sekedar urusan rukun islam yang lima.
Karena yang namanya ikhlas, syarat sah nya diterimanya segala macam ibadah.

Dan yang aku tahu, ibadah tak terbatas lima. Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Tapi lebih dari itu. Lebih.

Terlebih setelah aku statusku berubah menjadi seorang istri. Ditambah aku dipanggil "ummi". Subhaanallah...
Aku harus banyak-banyak bersyukur.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.“(QS. 2:152)

Ibadah. Dia mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah. Baik dari apa yang tersembunyi dalam segumpal darah -hati-. Atau yang keluar dari lisan. Atau yang dilakukan dengan anggota badan. Lahir dan batin.
Maka ikhlas, dibutuhkan atas semua itu.

Termasuk urusan cinta.
Ketika cinta memang tak seindah khayalan roman picisan.
Ketika cinta memang tak seperti imajinasi novel romantis.
Ketika cinta memang tak sama dengan kedustaan film.
Ketika cinta memang bukan skenario drama atau sinetron.
Fatamorgana.

Maka dalam mencintai, kita pun butuh ikhlas.
Mencintai dan membenci karena Allah saja.
Ini prinsip.

Ketika mencintai ibu  atau ayah kita. Maka kita harus mencintainya karena Allah. Karena memang Allah yang memerintahkan kita, untuk mencintai keduanya -birul walidain-.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
الإسراء

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.  Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Begitu juga, ketika mencintai suami.
Kita semua faham bahwa derajatnya lebih tinggi diatas kita-istri-.
Dan cinta itu, seperti berada dalam sebuah kapal. Ada suami sebagai nahkoda, istri dan anak-anak sebagai penumpang.
Maka perahu cinta, tak aman dari ombak bahkan badai.
Karena perahu tak sedang berlayar di taman berbunga. Tapi perahu sedang berlayar di lautan lepas. Fahami itu.

Maka pasti ada, kecewa, sedih, tangis, atau emosi di dada. Sangat dimaklumi, karena kaum hawa memang perasa. Itulah yang membuat dia butuh Imam, agar separuh agama dan akalnya terbimbing oleh seseorang yang sempurna akal dan agamanya.

Maka bahagia itu pasti ada. Demikian juga kesedihan, pasti datang. Justru, bumi ini adalah darul bala. Tempatnya ujian. Maka tak mungkin berisi canda tawa romantisme terus menerus sampai akhir hayat.

Suami-istri.
Sebuah ikatan suci yang menyatukan dua hati. Bahkan dua keluarga. Lalu ada anak-anak. Yang kita semua berharap pasti ujungnya adalah ini:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
[Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al Furqon: 74)
Al Qurtubhira himahullah berkata,
ليس شيء أقر لعين المؤمن من أن يرى زوجته وأولاده مطيعين لله عز وجل.“

Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannyataat pada Allah ‘azza wa jalla.” Perkataan semacam ini juga dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/333)

Bahkan, mungkin sejak sebelum dikhitbah, kita sudah sering mengemis ini kepada Rabb kita. Allah 'azza wa jalla.

Sungguh, perahu tak sedang berlayar di taman berbunga.

Ketika suami marah tanpa atau dengan alasan.
Ketika suami menjawab "tidak" atas permintaan kita.
Ketika suami berseberangan pendapat dengan ide kita.
Ketika suami tidak suka masakan kita.
ketika suami berulang kali melakukan kesalahan yang sama.
Ketika suami tidak mau mengerti menurut versi kita.
Ketika suami tidak memahami apa yang kita rasakan dan apa mau kita..
Ketika..
Ketika ..
Ketika.....
Ketika memang masalah tak hanya sesimple itu.
Disinilah.
Disinilah sangat diuji keikhlasan kita.

Kita melayani suami. Itu mudah ketika cinta mengalir indah.
Tapi bilamana ada rasa kecewa dan sekian riak-riak cinta.. maka BERAT yang akan terasa.
Anda bayangkan, senyum kepada orang yang telah menyakiti kita ? Bagaimana?
Tidak masalah.
Kok bisa?

Ya karena ikhlas. Mencoba selalu tersenyum disetiap hempasan ombak bahkan badai. Meski kadang mual dan muak.
Tapi SABAR adalah wajib.

Jika tidak, bagaimana mungkin kita akan nekat menceburkan diri kelautan karena ingin segera lepas dari hantaman badai?

Tersenyum dan berusaha selalu ikhlas. Mencintai bukan semata ingin dibalas cintanya oleh makhluk. Tapi karena Allah.
sehingga ketika suatu saat kita disakiti atau tersakiti atau merasa sakit, kita akan selalu ingat: "Aku mencintaimu kareba Allah. Karena Allah perintahkan aku memuliakanmu, melayanimu, bila kau balas dengan baik, maka itu adalah nikmat besar dari Rabb-ku, dan bila tidak..... maka aku serahkan kepada Allah. Semoga Allah melimpahkan kesabaran yang banyak padaku.."

***
belum selesai