Tampilkan postingan dengan label Mawaddah wa Rahmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mawaddah wa Rahmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

Mencintaimu karena-Nya saja



Bismillah,
Jika mencintai karena HARTA
ketika harta tak bersisa
Cinta pun tak berbekas

Jika mencintai karena TAHTA
ketika yang dicinta tak lagi berkuasa
cinta pun tinggal kenangan

Jika mencintai karena FISIK
maka semua akan menua
seiring hilangnya pesona
sejalan dengan rapuhnya tulang
seperti itu cinta akan memudar
sisanya hanyalah sesal
Karna tak ada yang abadi di dunia ini
fatal jika mencintai karena dunia
Apapun itu


Beda halnya jika
Mencinta karena Dia
Cinta pun bersemi seiring berjalannya waktu
Saling mencintai karena 1 asa
"ingin selalu bersama sampai di Jannah-Nya nanti"
Karna kebersamaan kita di bumi ini
Tak cukup,




Ummu Abdillah,

Love me more..
More than yesterday
More than now..


Jumat, 15 Juli 2016

Ketika dia bukan milikku

Semakin dewasanya kita
Insyaa Allah kita akan semakin faham
Bahwa takdir Allah,
Itulah yang terbaik menurut Allah..
Untuk kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(Al-Baqarah: 216)

Termasuk, ketika kita mengalami hal yang tidak menyenangkan di hati, ketika kenyataan tak sesuai harapan, ketika keinginan tak sejalan dengan keputusan Allah.
Maka saat itu mungkin air mata mengalir. Wajar, hal yang sangat manusiawi. Apalagi kita wanita, lemah. Separuh akal dan agama kita.

“Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal danagamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab,“Bukankah persaksian dua orang wanita sama denganpersaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?”, jawab beliau.
(Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1462 dan Muslim no. 79)

Lalu, apakah kita tenggelam dalam kubangan air mata kesedihan?
Tentunya jangan.
Seorang muslimah harus meyakini bahwa dibalik semua yang "pahit" ada hikmah yang manis. Entah kita mengetahui hikmah tersebut atau tidak. Tapi yang pasti, Allah tidak pernah mendzhalimi hamba-hamba Nya. Justru manusialah yang sering mendzalimi dirinya sendiri.

Pernakah Anda kecewa? Mungkin dulu... Anda berharap Fulan adalah pasangan hidup Anda. Tapi ternyata Allah menakdirkan lain, Fulan sekarang hidup bahagia (kelihatannya) dengan pasangannya. Anda pun sekarang sedang mengayuh biduk bersama Imam Anda.

Alhamdulillah.
Lalu apa masalahnya?
Menyesal?
"Kenapa bukan saya yang mendampingi dia, kenapa justru perempuan itu"
Mungkin pernah terbersit pertanyaan serupa?
Maka jawabannya:
"Karena itulah takdir Allah.... rezeki, ajal, amal, kebahagiaan dan kesedihan termasuk didalamnya menikah dengan siapa sudah ditetapkan oleh Allah"

Kita boleh meminta seseorang dalam doa, tapi Allah Maha Tahu mana yang terbaik untuk kita. Maka, ketika permintaan kita tidak dikabulkan dan diberi ganti seseorang yang lain. Maka ketahuilah, itulah takdir kita.

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”
(HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Meyakini yang disamping kita adalah laki-laki terbaik yang dipilihkan Allah untuk kita adalah sebuah jalan diantara sekian jalan untuk bersyukur.

"Alhamdulillah... aku telah memiliki pendamping hidup"

Sementara diluar sana, ada sekian perempuan ditakdirkan belum bersuami, masih gadis ketika usia mereka tak lagi muda atau mereka yang berstatus janda. Semuanya tak terlepas dari takdir Allah.

"Alhamdulillah, aku telah menjadi seorang istri.."

Maka lupakanlah dia. Tak perlu di ingat seseorang yang pernah Anda minta dalam doa waktu itu. Karena jika yang dulu Anda lakukan adalah shalat istikharah.
Maka cukuplah semua tersurat dalam doa indah istikharah.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِىفِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku didunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama,penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya."

[3]HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah

"Cinta... aku ingin selalu mensyukurimu
Bukan mengkufurimu,
Maafkan atas segala kekuranganku dalam melayanimu
Terima kasih atas segala kebaikan yang kau curahkan untukku
Bila nanti ajal menjemput,
Aku ingin menghembuskan nafas terakhirku,
Dalam keadaan kau ridhla kepadaku,
Cinta...
Aku mencintaimu karena Allah"

Selasa, 12 Juli 2016

Kami Mencintaimu Nak..

Hari ini kakàk (si sulung) tiba-tiba memghampiriku lalu menyuruhku membaca kertas yang ada ditangannya.

Maa syaa Allah..
Haru
Senang
Lucu..

Semoga Allah menjagamu di dunia dan akhirat Nak..

Senin, 04 Juli 2016

ALHAMDULILLAH

Saya bersyukur kepada Allah atas semua limpahan nikmat-nikmatnya. Dan nikmat terbesar itu adalah ketika Allah menunjuki saya pada Al Haq - mengenal Sunnah-.

Jumat, 29 April 2016

Dia, adalah Figur Suami Dambaan Hati

➖🍃➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🌷💡🏠 SUNNAH DALAM RUMAH BAGI PARA SUAMI, MEMBANTU TUGAS ISTRI

✒📂 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

🌷 Termasuk tawadhu'nya Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah beliau di dalam rumah membantu keluarga beliau. Beliau memerah susu kambing, menjahit sandal, membantu mereka di rumah mereka. Karena Aisyah pernah ditanya, apa yang diperbuat Nabi shallallahu alaihi wasallam di rumah beliau? Aisyah berkata : ''Beliau sering membantu keluarga beliau shallallahu alaihi wasallam.''

🌱 Maka misalnya seorang insan jika ia berada di rumahnya, maka termasuk sunnah adalah hendaknya ia membuat teh sendiri untuk dirinya, memasak jika memang ia bisa memasak, mencuci apa yang perlu dicuci, ini semua termasuk sunnah. Engkau.. jika engkau melakukan itu semua, engkau akan dapat pahala, pahala sunnah karena mencontoh Rasul shallallahu alaihi wasallam, dalam rangka tawadhu' karena Allah.

☀️ Dan karena hal ini akan menumbuhkan kecintaan antara dirimu dengan istrimu, jika istrimu merasa kalau engkau selalu membantu mereka dalam tugas mereka, mereka akan mencintaimu. Dan martabatmu akan bertambah tinggi disisi mereka. Sehingga dalam perkara ini ada kemaslahatan yang besar.

📂 Sumber: Syarh Riyadhu ash-Shalihin juz 2 h 264.

🌎 Kunjungi Selengkapnya || http://forumsalafy.net/sunnah-dalam-rumah-bagi-para-suami-membantu-tugas-istri/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Chqnnel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Ummu Shalih yang Shalihah

🏡🛤🏖 RUMAH TANGGA BAHAGIA ANTARA SUAMI YANG SHALIH DAN ISTRI YANG SHALIHAH

⛵al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang isterinya, Ummu Shalih :
"Ummu Shalih hidup bersamaku selama dua puluh (20) tahun. Aku dan dia tidak pernah berselisih dalam satu kata pun."

📗 Thabaqat al-Hanabilah, 2/583

sumber : Tweet @alrfaee1433: https://twitter.com/alrfaee1433/status/725100871378440192?s=09

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

📬 Diposting ulang oleh
🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀