Tampilkan postingan dengan label Coretanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretanku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Desember 2017

Bersyukur


Bismillah.
Melihat kenyataan.
Kadang tanpa terasa kita membandingkan kehidupan fulanah dengan hidup kita.
Disadari atau tidak, sengaja atau tidak.
Misalnya saja pas kita menemukan fulanah yang qaddarullah  -walhamdulillah wa baarokallahufyha- anak orang kaya. Hidupnya sudah mapan karena fasilitas semua dari orang tuanya. Rumah,  mobil, pembantu,  bahkan ngurusi anak saja "mbahnya" yang banyak bantu.
Mulai memandikan sampai menyuapi dll.
"Surga dunia"
Mungkin itu yang kita gumamkan.
TETAPI,
Masih ada tanda baca KOMA,
Sebelum tergesa menuju tanda TITIK,
Tidakkah kita sadari bahwa sudah fitrah SEMUA MANUSIA AKAN DIUJI?
Apalagi yang mukmin.
Tidak terkecuali fulanah yang dengan kehidupan "wahh" tadi. Hanya saja kedua mata kita terlalu terbatas untuk melihat apa ujiannya.
Dan mungkin justru karena pandainya fulanah tadi menutupi kesedihannya,  yang nampak dimata kita selalu senyumannya. Maa syaa Allah.
Sampai-sampai kita mengira :
"Enaknyaaa  fulanah itu..  Seneng terus hidupnya,  nggak pernah susah kayak aku.. Bla... Bla.. Bla... Ilaa akhir"
Akhirnya,
Yang ada kita terus MENDONGAK
Melihat ke atas TANPA BATAS
Merasa kita ini orang  "paling" susah SEDUNIA
LUPA AKAN NIKMAT-NIKMAT ALLAH
Terlebih nikmat mengenal sunnah...
Allahu ya.. rabbanā,
Cukupilah kami dengan gemerlapnya qana'ah dalam hati..
Sehingga lisan kami selalu basah dengan tahmid
Memuji-Mu
Dalam setiap keadaan kami
Instropeksi ditengah genangan nikmat Allah....
Jangan mudah terbawa perasaan saat melihat orang lain bergelimang kebahagiaan,
Karena yang namanya bahagia itu mesti berteman dengan airmata,
Tidak ada yang abadi di DUNIA ini teman...
Nanti,
BAHAGIA yang kekal,  selama-lamanya
Tak ada tangis dan  kesedihan padanya
MURNI BAHAGIA SAJA,
Disana,  di Jannah-Nya
Al Faqirah ila Rabbiha,
Najiyah

Jumat, 14 Oktober 2016

Aku pasrahkan..

Dan hamba pasrahkan..
 seluruh urusan hamba kepada-Mu Ya Rabb..
















Ummah:  dek tadi barusan sholat apa?
Abdurrahman:  aku sholat 5 rakaat. Lupa
Ummah: sholat apa?
Abdurrahman: gak tau
Ummah: loh kamu itu tadi sholat apa? Niat sholat apa? Sholat duhur apa sholat Ashar?
Abdurrahman: gak tau, aku cuma kepingin sholat nirukan umi. Umi sholat aku juga sholat.

Maa syaa Allah...

Kira-kira seperti itu percakapan tadi diantara kami tadi seusai sholat duhur. Hatiku terenyuh. Alhamdulillah, semua ini karena nikmat-Nya semata, lelaki kecilku yang berusaha mengerjakan rukun islam kedua.

Baarokallahufyk Nak...



Ya Allah jadikanlah anak keturunan kami termasuk orang-orang yang mendirikan sholat..

Ketika tak cukup hanya kata

Bismillah.

🏡DUNIA...
Bukan rumah kita Nak,



قال الشيخ صالح الفوزان:

"الدنيا ليست دارًا للمسلم. إنما دار المسلم
هي الجنة وهو وُجد في الدنيا من أجل أن
يعمل للجنة !."

[شرح الأربعين٢٨٥]

•••❁●❁●❁•••

💬 Asy-syaikh Shalih Al-Fauzan berkata,

🌎 "Dunia ini bukan rumahnya seorang muslim.

Sesungguhnya rumah  seorang muslim adalah surga.

Dan dia diwujudkan di dunia ini dengan tujuan BERAMAL UNTUK SURGA!"

📚 Syarh Al-Arba'in (285)




Menatap kalian..
Tak terasa mata ini memanas.
Lalu tanpa permisi buliran-buliran bening itu menetes. Semakin lama semakin deras. Berlinang membasahi pipi.

Cinta ini,
Sulit untuk kudefinisikan. Tak cukup dengan rangkaian kata-kata puitis.
Cinta ini begitu membuncah. Yang kuyakini akan selalu mengalir dalam derasnya detik yang bergulir. Meski cintaku tak sempurna. Bahkan jauh dari kata sempurna.

Aku hanya ingin kalian bahagia.
Tak ingin melihat kalian tersenyum di bumi Allah, tapi terus berlanjut kebahagiaan itu, bersama kalian dalam kehidupan yang abadi.
Aku memohon kepada Rabb-ku agar kelak,
Al Jannah adalah tempat kembali kalian.

Maafkan ibu Nak,
Jika terlalu banyak kekurangan dalam mentarbiyah kalian...
Maafkan ibu kalian ini,
Jika terlalu banyak cela pada setiap dinding kesabaran itu
Maafkan ibu Nak,
Maafkan...

Jika mungkin jalan ini tak seindah mereka yang sedang berjalan...
Karena memang jalan inilah yang ibu pilih.
Jalan yang ibu yakini, akan mengantarkan kalian pada keselamatan dunia akhirat.
Jalannya salafush sholih.

Nak, jika kau lihat disana ada yang lebih nikmat hidupnya diatas materi
maka segeralah tundukkan kepalamu,
لَبَّيْكَ إِنَّ العِيْشَ عِيْشَ الآخِرَة
"Aku memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya hidup adalah kehidupan akhirat"

Lalu segeralah berlari dari dunia,
Ambillah seperlumu untuk menegakkan tulang, untuk kau bersujud kepada-Nya saja.

Jangan kau bawa bekal berat-berat
kecuali bekal jariyah dan amal sholih.

Nak, ibu hanya ingin.
Kalian menjadi hamba-hamba-Nya yang shalih
Menjadi manusia-manusia yang ikhlas dalam setiap ibadah kalian.

Kalian, adalah hartaku yang paling berharga.
Yang jika tubuh ini sudah terbujur kaku, maka yang kuharap saat itu adalah istighfar kalian untukku.

Nak, maafkan aku💦

Aku serahkan kalian kepada Rabb-ku
Aku mintakan semua yang terbaik dari kebaikan dunia & akhirat kepada-Nya, untuk kalian...



Dalam sujudku,
Dalam doa-doaku sebelum salam
Dalam waktu-waktu yang mustajabah
Aku meminta yang terbaik untuk kalian..

Semoga Allah menjaga kalian fid dunya wal akhirah
Semoga Allah selalu menolong kalian..
Semoga Allah menempatkan kalian, aku dan ayah kalian nanti.. serta bersama kerabat kita yang shalih dan shalihah...
Kelak... ditempat terbaik,
Yang tak ada lagi tangis disana,
Yang ada hanya bahagia
kedamaian

Di sana,
Di Jannah-Nya

Aku mencintai kalian karena Allah,

✍🏻ditulis oleh seorang ibu, yang sedang membuncah cintanya untuk benih-benih yang suci...

Sabtu, 08 Oktober 2016

Ketika mulai letih




Bismillah,
Suamiku sayang..
Ketika mulai letih,
Ingin rasanya aku bersandar dibahumu..
Sebentar saja,
Sebelum sekian kesibukan memisahkanmu dariku.
Ketika mulai letih,
Ingin rasanya aku bersandar dibahumu..
Sebentar saja,
Mungkin nanti akan ada yang berlinang
Atau sesenggukan
Maka, pelukkah aku.
Ingatkan aku agar menetapi kesabaran,
Maka, dekaplah aku.
Ingatkan kembali tentang IKHLAS
Karena, hidup
Memang untuk letih
Untuk berjuang,
Karena Jannah itu MAHAL
Jalannya dipenuhi keletihan
yang dibenci hawa nafsu
Suamiku sayang,
Biarkan aku bersandar dibahumu...
Sebentar saja,

Sabtu, 05 Maret 2016

Tanaman itu, tak sama waktu panennya maka bersabarlah

بسم الله الرحمن الرحيم

Ketika ana menuliskan ini. Saya sedang bergemuruh diantara desingan Mobil dan motor jalan raya. Pulang dari sebuah Rumah.

Yang dari Rumah itu ana mendapat sebuah Pelajaran berharga. Sekian mutiara nasehat -entah sudah berapa untaian- dan yang Kali ini ingin ana bagi dengan Antunna, adalah sebuah nasehat indah tentang tarbiyah.

"Tanaman buah itu berbeda-beda..
Ada yang cepat berubah karena memang masa panennya cepat..
Disiram, dipupuk dalam beberapa bulan saja, bulan kesekian sudah bisa dipanen.
Contohnya buah tomat.

Beda lagi dengan kelengkeDimana butuh bertahun-tahun untuk dirawat barulah kita bisa panen hasil buahnya yang manis"

Benar tidak Ukhty fillah?
Benar sekali.

Beda buah beda Cara perawatnya
Beda juga.. Masa panennya.
SATU kesamaannya,
Kita sedang sama sama menunggu hasil panen yang memuaskan.

Insyaa Allah.

Demikian pula dalam proses tarbiyah.
Sebuah pendidikan yang terus meneruskan sejak tangisnya kita dengar.
Sampai Allah menentukan kapan kita menghembuskan nafas terakhir.
Disitulah akhir kita mentarbiyah mereka.
Maka selama nafas kira berhembus, tarbiyah harus selalu ada.
Kita -orang tua-
Dan putra-putri kita.

Sama, dengan proses menanam buah tadi,
Mentarbiyah anak-anak
Ibaratnya kita sedang menanam buah.
Dari buah itu ada yang mudah perawatannya dan segera berubah.
Ada juga buah yang lama proses perawatannya dan lama pula panennya.
Demikian Anak-Anak.
Dari mereka ada yang dengan bahasa tubuh saja mereka sudah mengerti mau kita.
"Jangan Nak, itu tidak baik.."
Ada yang hanya dengan kata-kata, mereka segera menuruti nasehat kita.
Ada yang sebaliknya.
Sudah dinasehati berkali-kali, ini, itu, tapi tidak ada pengaruh bahkan mungkin malah menjadi.
Wallahu musta'an. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.
Lalu bagaimana?

JANGAN PUTUS ASA.
Terus berdo'a memohon kebaikan untuk kita dan anak keturunan kita.
Disertai ikhtiar yang terus menerus.

SABAR.
Jangan sampai keluar kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut kita kepada buah hati kita.

DO'AKANLAH.
Justru sepantasnya kita senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka.
Buah hati kita.
Permata-permata hati kita.
Harapan kita saat semua amalan terputus.
"Anak Shalih shalihah".

Sungguh benar,
Tiap buah beda masa panennya.
Maka bersabarlah.
Kita berharap kepada Allah.
Agar kelak panen kita menghasilkan buah buah yang baik.
Maka Sekarang adalah masa menanam.
Mari kita pupuk dan siram dengan yang baik-baik.

Siap ibu-ibu?
Insyaa Allah...
Ya Allah, tolonglah kami agar dapat mentarbiyah buah hati kami dengan sebaik-baik tarbiyah.
Tarbiyah islamiyah berlandaskan Al Qur'an & as Sunnah di atas pemahaman Salaful Ummah.

Semoga Allah menjaga seseorang di sana, yang dari nya ana menimba Ilmu.. Dimana mutiara Demi mutiara Ilmu
Ana ambil darinya.
Sesungguhnya ana mencintai dia karena Allah.

Selasa, 01 Maret 2016

Rumput tetangga tak perlu membuat risau

بسم الله الرحمن الرحيم

Kemarin, saya melihat dari kejauhan, teman saya digandeng suaminya bersama dua anaknya, menyebrang bersama sebelum akhirnya keluarga kecil itu -semoga Allah merahmati mereka- masuk kedalam sebuah mobil.

Ah, romantis!

Lalu hati pun ingin seperti itu. Selalu ditemani suami dalam setiap langkah, bahkan hanya sekedar berdua berjalan menuju tempat parkir.

Ah, HIPERBOLA.

Tak perlu bermajas tepatnya. Segera singkirkan saja perasaan-perasaan "Kok suamiku tidak begitu.." atau kalimat semakna.

Jangan.

Kita memohon kepada Allah agar Dia senantiasa membimbing kita, untuk menunduk.
Agar kedua mata ini selalu melihat kebaikan-kebaikan suami kita.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّث
ْ“Dan terhadapnikmat Tuhanmumaka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”
.(Qs. Adh Dhuha: 11)

Maka yang terucap bukan "Kok suamiku tidak begitu.. begini"
Tapi: "Alhamdulillah suamiku sudah begini begitu kepadaku"
Sembari mengingat dan menyebut kebaikan-kebaikan suami kita.

Meski memang pasangan kita itu bukan malaikat.
Maka wajar bila tak sempurna.

Dan bila datang di hadapan kita pemandangan hijau merona dari rumput tetangga.
Maka do'akanlah kebaikan untuk mereka:
بارك الله لكم...

Dan untuk kita, tak perlu iri.
Dan tak perlu pula membanding bandingkan baik di dalam hati maupun jelas dilisan.

Ya Rabb,jadikan kami sebagai penyejuk pandangan mata dan hati suami kami...
Jadikan kami para istri yang pandai mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan suami kami...
Bukan sebaliknya
Kami berlindung dari kejahatan dan kejelekan hawa nafsu kami....

آمين يا مجيب السائلين

Penutup:
#jika kau lihat rumput tetangga yang menghijau.
Tak perlu risau
Buang segera iri atau dengki
Toh, barangkali itu hijau fatamorgana
Cuma 1 yang pasti
"Bersyukur menambah nikmat"
Adapun hijaunya rumput tetanggamu, belum pasti
Bisa jadi fatamorgana

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌرَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benarMaha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs. An Nahl: 18)

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.”
(Qs. Al Baqarah: 152)

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّه
ِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”
(Qs. An Nahl: 53)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد

ٌ“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

كتبت في:

☀ يوم الخميس ، ٢٣ جمادى الأولى  ١٤٣٧ ه‍

⛅ ⓚⓐⓜⓘⓢ, 3 Maret 2016 M

🍇 بارك الله لي و لكن

〰〰🍃〰🍃〰🍃〰🍃〰🍃〰〰

Minggu, 21 Februari 2016

Rumput tetangga, tak perlu membuat risau

بسم الله الرحمن الرحيم

Kemarin, saya melihat dari kejauhan, teman saya digandeng suaminya bersama dua anaknya, menyebrang bersama sebelum akhirnya keluarga kecil itu -semoga Allah merahmati mereka- masuk kedalam sebuah mobil.

Ah, romantis!

Lalu hati pun ingin seperti itu. Selalu ditemani suami dalam setiap langkah, bahkan hanya sekedar berdua berjalan menuju tempat parkir.

Minggu, 07 Februari 2016

Bukan sebuah cerpen : Belajar ikhlas sampai maut menjemput

بسم الله الرحمن الرحيم

Sungguh, ikhlas itu dibutuhkan disetiap perkara.

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَة

"Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." – (QS.98:5)

Inilah ayat. Yang seharusnya terus aku baca. Aku fahami tafsirnya. Dan terus menjadi motivasi hidup. Bertahan.

Dan ikhlas itu bukan sekedar urusan rukun islam yang lima.
Karena yang namanya ikhlas, syarat sah nya diterimanya segala macam ibadah.

Dan yang aku tahu, ibadah tak terbatas lima. Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Tapi lebih dari itu. Lebih.

Terlebih setelah aku statusku berubah menjadi seorang istri. Ditambah aku dipanggil "ummi". Subhaanallah...
Aku harus banyak-banyak bersyukur.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.“(QS. 2:152)

Ibadah. Dia mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah. Baik dari apa yang tersembunyi dalam segumpal darah -hati-. Atau yang keluar dari lisan. Atau yang dilakukan dengan anggota badan. Lahir dan batin.
Maka ikhlas, dibutuhkan atas semua itu.

Termasuk urusan cinta.
Ketika cinta memang tak seindah khayalan roman picisan.
Ketika cinta memang tak seperti imajinasi novel romantis.
Ketika cinta memang tak sama dengan kedustaan film.
Ketika cinta memang bukan skenario drama atau sinetron.
Fatamorgana.

Maka dalam mencintai, kita pun butuh ikhlas.
Mencintai dan membenci karena Allah saja.
Ini prinsip.

Ketika mencintai ibu  atau ayah kita. Maka kita harus mencintainya karena Allah. Karena memang Allah yang memerintahkan kita, untuk mencintai keduanya -birul walidain-.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
الإسراء

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.  Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Begitu juga, ketika mencintai suami.
Kita semua faham bahwa derajatnya lebih tinggi diatas kita-istri-.
Dan cinta itu, seperti berada dalam sebuah kapal. Ada suami sebagai nahkoda, istri dan anak-anak sebagai penumpang.
Maka perahu cinta, tak aman dari ombak bahkan badai.
Karena perahu tak sedang berlayar di taman berbunga. Tapi perahu sedang berlayar di lautan lepas. Fahami itu.

Maka pasti ada, kecewa, sedih, tangis, atau emosi di dada. Sangat dimaklumi, karena kaum hawa memang perasa. Itulah yang membuat dia butuh Imam, agar separuh agama dan akalnya terbimbing oleh seseorang yang sempurna akal dan agamanya.

Maka bahagia itu pasti ada. Demikian juga kesedihan, pasti datang. Justru, bumi ini adalah darul bala. Tempatnya ujian. Maka tak mungkin berisi canda tawa romantisme terus menerus sampai akhir hayat.

Suami-istri.
Sebuah ikatan suci yang menyatukan dua hati. Bahkan dua keluarga. Lalu ada anak-anak. Yang kita semua berharap pasti ujungnya adalah ini:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
[Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al Furqon: 74)
Al Qurtubhira himahullah berkata,
ليس شيء أقر لعين المؤمن من أن يرى زوجته وأولاده مطيعين لله عز وجل.“

Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannyataat pada Allah ‘azza wa jalla.” Perkataan semacam ini juga dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/333)

Bahkan, mungkin sejak sebelum dikhitbah, kita sudah sering mengemis ini kepada Rabb kita. Allah 'azza wa jalla.

Sungguh, perahu tak sedang berlayar di taman berbunga.

Ketika suami marah tanpa atau dengan alasan.
Ketika suami menjawab "tidak" atas permintaan kita.
Ketika suami berseberangan pendapat dengan ide kita.
Ketika suami tidak suka masakan kita.
ketika suami berulang kali melakukan kesalahan yang sama.
Ketika suami tidak mau mengerti menurut versi kita.
Ketika suami tidak memahami apa yang kita rasakan dan apa mau kita..
Ketika..
Ketika ..
Ketika.....
Ketika memang masalah tak hanya sesimple itu.
Disinilah.
Disinilah sangat diuji keikhlasan kita.

Kita melayani suami. Itu mudah ketika cinta mengalir indah.
Tapi bilamana ada rasa kecewa dan sekian riak-riak cinta.. maka BERAT yang akan terasa.
Anda bayangkan, senyum kepada orang yang telah menyakiti kita ? Bagaimana?
Tidak masalah.
Kok bisa?

Ya karena ikhlas. Mencoba selalu tersenyum disetiap hempasan ombak bahkan badai. Meski kadang mual dan muak.
Tapi SABAR adalah wajib.

Jika tidak, bagaimana mungkin kita akan nekat menceburkan diri kelautan karena ingin segera lepas dari hantaman badai?

Tersenyum dan berusaha selalu ikhlas. Mencintai bukan semata ingin dibalas cintanya oleh makhluk. Tapi karena Allah.
sehingga ketika suatu saat kita disakiti atau tersakiti atau merasa sakit, kita akan selalu ingat: "Aku mencintaimu kareba Allah. Karena Allah perintahkan aku memuliakanmu, melayanimu, bila kau balas dengan baik, maka itu adalah nikmat besar dari Rabb-ku, dan bila tidak..... maka aku serahkan kepada Allah. Semoga Allah melimpahkan kesabaran yang banyak padaku.."

***
belum selesai